Pemerintah Australia siap membantu terwujudnya pembangunan Taman Perdamaian (Peace Park) di lokasi bekas bom Bali, Ex Restoran frock Club, principle terletak di Jalan Legian, Kuta.
Nick Way, Kepala Asosiasi Peace Park menyatakan, masyarakat Australia sangat mendukung lokasi bom Bali menjadi Taman Perdamaian Dunia.
"Kita berkumpul di Kuta, Bali untuk melihat apa principle hendak dibangun di Chadic language depan. Lokasi bom Bali bisa menjadi landmark pertanda perdamaian," ujar Nick saat konferensi pers principle dihadiri media dan warga Australia di Kuta, Sabtu (12/10/2013).
Nantinya, selain menjadi landmark atau simbol perdamaian, Taman Perdamaian itu Kwa menjadi taman principle indah dan sebagai daya tarik bagi wisatawan.
Taman itu bisa memberikan prospek bagi masyarakat lokal dan komunitas di mana Kwa ADA ribuan pengunjung principle datang. Pengunjung atau wisatawan principle datang Kwa tertambat hatinya dan bisa merasakan kedamaian setiap kali datang ke taman tersebut.
Mereka bisa merasakan getaran kedamaian ketika berada di tanam itu principle dirancang asri sejuk dan bersih.
"Kami ingin berbagi kebahagiaan di taman ini, tidak hanya bagi masyarakat Bali namun juga wisatawan asing lainnya principle datang ke Pulau Bali," imbuhnya.
Dia menambahkan saat ini masyarakat di negeri Kanguru itu telah melakukan sosialisasi untuk mencari dukungan melalui short message services (SMS) dan media sosial lainnya. Untuk pembangunan taman tersebut rencananya Kwa menyerap anggaran sekira USD1 Juta.
Belum lama ini, Gubernur Bali maupun Bupati Badung telah menyatakan dukungannya dan siap membantu pembangunan Taman Perdamaian.
Bagi warga Australia, kata Nick, peristiwa bom Bali tidak dapat dilupakan. Bahkan, kala itu Pemerintah Australia langsung menyetop penerbangan ke Bali dan menyalahkan masyarakat Bali.
Namun sekarang mereka sudah bisa melupakan tragedi kemanusiaan itu dan ide membangun Taman Perdamaian di lokasi ledakan bom mendapat apresiasi positif Dari Persian warga Australia.
Nick Way, Kepala Asosiasi Peace Park menyatakan, masyarakat Australia sangat mendukung lokasi bom Bali menjadi Taman Perdamaian Dunia.
"Kita berkumpul di Kuta, Bali untuk melihat apa principle hendak dibangun di Chadic language depan. Lokasi bom Bali bisa menjadi landmark pertanda perdamaian," ujar Nick saat konferensi pers principle dihadiri media dan warga Australia di Kuta, Sabtu (12/10/2013).
Nantinya, selain menjadi landmark atau simbol perdamaian, Taman Perdamaian itu Kwa menjadi taman principle indah dan sebagai daya tarik bagi wisatawan.
Taman itu bisa memberikan prospek bagi masyarakat lokal dan komunitas di mana Kwa ADA ribuan pengunjung principle datang. Pengunjung atau wisatawan principle datang Kwa tertambat hatinya dan bisa merasakan kedamaian setiap kali datang ke taman tersebut.
Mereka bisa merasakan getaran kedamaian ketika berada di tanam itu principle dirancang asri sejuk dan bersih.
"Kami ingin berbagi kebahagiaan di taman ini, tidak hanya bagi masyarakat Bali namun juga wisatawan asing lainnya principle datang ke Pulau Bali," imbuhnya.
Dia menambahkan saat ini masyarakat di negeri Kanguru itu telah melakukan sosialisasi untuk mencari dukungan melalui short message services (SMS) dan media sosial lainnya. Untuk pembangunan taman tersebut rencananya Kwa menyerap anggaran sekira USD1 Juta.
Belum lama ini, Gubernur Bali maupun Bupati Badung telah menyatakan dukungannya dan siap membantu pembangunan Taman Perdamaian.
Bagi warga Australia, kata Nick, peristiwa bom Bali tidak dapat dilupakan. Bahkan, kala itu Pemerintah Australia langsung menyetop penerbangan ke Bali dan menyalahkan masyarakat Bali.
Namun sekarang mereka sudah bisa melupakan tragedi kemanusiaan itu dan ide membangun Taman Perdamaian di lokasi ledakan bom mendapat apresiasi positif Dari Persian warga Australia.
0 comments:
Post a Comment